Jumat, 06 Februari 2015

Dan lagi.

Seakan pengalaman tidak mengajarkan apapun.
Kerasnya hati membuatmu jadi pikun.
Luapan emosi menyebar racun.

Dan lagi.

Luka yang sama terobek lagi.
Seakan lupa rasanya sakit hati.
Mungkin kamu tidak perduli.

Dan lagi.

Terisolir di dunia mimpi.
Dan aku semakin takut menghadapi.
Kenyataan semakin sering ku ratapi.
Tanpa bisa meraih mimpi.

Senin, 08 Desember 2014

Sulit mengerti.

Saya sungguh sulit mengerti dan sulit memahami. 
Jelas, cemburu selalu menyayat hati. 
Emosi hanya ingin menang sendiri. 
Kepedihan tak terbendung lagi. 

Logika ini sungguh dibutakan. 
Oleh cemburu yang tertahankan. 
Benci lalu jadi kawan. 
Begitu sulit di lawan. 

Saya ini siapa? 
Bisa apa? 
Harus bagaimana? 

Saya sungguh sulit mengerti. 
Sungguh sulit menolak diri. 
Tanpa tau apa-apa lagi. 

Saya ingin lupa. 
Tapi tidak ingin buta. 
Saya ingin pulang, saya ingin tenang. 

Saya sulit mengerti. 

Selasa, 02 Desember 2014

Diam

Aku pintar dalam diam. 
Dan paling mahir saat bungkam. 

Bisu selalu jadi kawan. 
Dan tak pernah jadi lawan. 

Katamu aku salah paham. 
Mungkin kita yang tak sepaham. 

Aku pintar dalam diam. 
Tapi senang bergumam.  

Bertahan tetap diam membuatku sulit menggenggam masa depan. 

Lidah ini kaku.
Aku seakan membeku. 

Diamku ini menjadikanku bodoh.
Tapi aku yakin kita berjodoh. 

Karna dalam diam, aku tetap bergumam. 
Karna dalam diam, aku tetap menyimpan rasa yang dalam. 

Minggu, 02 November 2014

Kamu tau?

Kamu tau? 
Rasa yang dulu manis bisa mendadak menjadi tawar. 
Rasa yang dulu melekat bisa tak lagi pekat. 
Rasa yang dulu indah bisa terbuang sudah.

Kamu tau?  
Wanita sulit dimengerti. 
Sulit dipahami, sulit ditebak. 

Kamu tentu tau kan? 
Pelangi terdiri dari banyak warna. 
Bahwa daun berwarna hijau. 
Dan darah berwarna merah. 

Mungkin ini yang belum kamu tau. 
Bahwa kita berdiri pada pijakan yang sama, bumi. Tapi kita melayang pada angan yang sama, yaitu cinta. 


Kamis, 03 Juli 2014

prasangka baik.

'Aku tergantung prasangka hambaku'. 

Itulah yang tertulis jelas dalam hadist Qudsi.
Maka, berprasangka baiklah kalian wahai manusia maka takdir Allah pun juga akan baik.

Sebenernya mudah melakukan itu. Berprasangka baik. Sebenernya mudah, tapi juga sulit.
Ya balik lagi, kita manusia biasa yang terkadang gak mampu menerima takdir.
Kita sering lupa bahwa takdir itu adalah kuasa Tuhan.
Makanya, berprasangka baik itu menjadi sulit karena kita udah dikelilingi oleh rasa takut.
Takut akan takdir yang terjadi tidak sesuai keinginan kita.
Meskipun gak ada ruginya juga kita berprasangka baik, gak ada ruginya sama sekali.
Tapi ya itu, sulit.

Jumat, 27 Juni 2014

ramadhan.

Marhaban Yaa Ramadhan..

In shaa Allah kita akan segera meninggalkan bulan Sya'ban dan memasuki bulan Ramadhan.
Bulan yang sangat indah, yang sangat dinantikan jutaan umat islam di seluruh dunia.

Ini ramadhan ke-8 tanpa Ibu.
Setiap tahun saya bukannya semakin kuat, tapi semakin lemah.
Lemah karena ingatan tentang beliau.
Lemah karena ucapan beliau.

"Kamu nanti pasti nyesel deh klo Ibu udah ga ada, pasti nangis-nangis."

Saya memang tidak menangis saat beliau pergi.
Tapi hari demi hari, bulan berganti bulan dan tahun demi tahun, saya baru mulai mengenal air mata.
Air mata karnanya.
Karena kalimatnya, karena ucapan benar adanya.

17 Agustus 2007.
Hari kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia.
Tapi hari itu justru kemerdekaan saya direnggut.
Sebelah jiwa menghilang, pergi menuju tempat yang abadi.
Meninggalkan kebisingan Ibukota dengan cucuran air mata.
Ia bungkam, mulutnya tertutup oleh selang.
Saaya hanya terpaku diam.
Mulut berucap seluruh doa yang saya pahami.
Tangan saya menggenggam erat jari jemari itu.
Saya tidak kuat.
Saya pun lemah.
Tapi kuat menjadi harus ketika yang lain lemah.

Ikhlas.
Ibu menuju tempat yang jauh lebih baik.
Ibu menuju tempat yang tak ada orang jahat.
Ibu menuju tempat yang lebih sempurna.

Ramadhan 2007 waktu itu rasanya perih.
Lagi, saya tidak menangis.
Tetapi bukan berarti saya tidak menangis.
Hati ini pedih, hati ini perih.
Kehilangan jiwa, kehilangan peneduh.

Tahun ini, menjadi ramadhan ke-8 tanpa Ibu.
Saya bersyukur masih bisa merasakan Ramadhan meski tanpa Ibu.
Kehilangan membuat saya belajar untuk mempertahankan apa yang ada sekarang.

Tuhan, terima kasih atas udara yang kau sediakan untuk kami bernafas.
terima kasih atas semua isi yang ada di langit dan di bumi.
Terima kasih telah menjaga kami sampai kami bisa merasakan kembali bulan Ramadhan.
Jaga kami terus ya Tuhan sampai kami bisa menuntaskan bulan Ramadhan ini dengan amal kebaikan untuk menggapai ridho-Mu, Amin ya Rabb.

Marhaban Yaa Ramadhan..
Selamat datang bulan Ramadhan..

Selasa, 24 Juni 2014

janji.

Kalau semudah itu mengumbar janji, aku juga mau.
Kalau semudah itu berucap sayang, aku juga mau.
Kalau semudah itu meminta hati, aku juga mau.
Kalau semudah itu mencampakkan, aku juga mau.
Aku mau semua yang kamu janjikan lalu kau dustakan.